Rekomendasi Bacaan

Resensi Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis

Tulisan-tulisan Rusdi Mathari atau Cak Rusdi memiliki ciri khas yang mampu menggambarkan kenyataan dengan sangat detail tanpa meninggalkan sisi-sisi keberpihakannya terhadap mereka yang lemah dan terpinggirkan. Dalam tema-tema sosial, Cak Rusdi menampilkan keberpihakan tersebut dalam bahasanya sendiri tanpa terkesan menggurui pembacanya.

Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis, salah satu buku tipis sejumlah 115 halaman memuat 23 kisah Islami yang cocok dijadikan bacaan renungan kehidupan. Perenungan Cak Rusdi selama menjadi wartawan dan latar belakang kehidupan keagamaan di Situbondo yang kental dengan kultur NU nampak sekali dalam buku ini, selain bukunya yang lain berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. 

Melalui buku ini, Cak Rusdi serasa mendongeng tentang beberapa kisah di zaman nabi dan mengaitkan dengan sekelumit kasak-kusuk manusia zaman sekarang. Tulisan tersebut seperti menarasikan kehidupan manusia modern yang terkesan abai terhadap makhluk-makhluk sederhana seperti jagung. Menurut Cak Rusdi, seonggok jagung setidaknya lebih bermanfaat ketimbang manusia yang hidup hanya untuk merusak.

Problematika kehidupan keagamaan di Indonesia memang banyak diwarnai ketegangan-ketegangan horizontal baik antar umat beragama maupun internal umat beragama. Jika dalam bukunya yang berjudul Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam menggambarkan tentang konflik Sunni-Syiah yang dipicu permasalahan internal keluarga, maka dalam buku ini Cak Rusdi ingin mengajak kita untuk melihat bahwa potensi ketegangan itu juga dapat ditemui dalam tiap agama dan tiap kelompok keagamaan. Entah itu Kristen dengan gerejanya, Hindu dengan Pura-nya atau Buddha dengan wihara-nya. Semuanya tidak terlepas dari potensi perselisihan.

Di halaman pertama yang berjudul Fitnah, ia mengisahkan tentang seorang pemuda yang meminta maaf pada Abu Nawas karena sudah memfitnahnya. Abu Nawas memafkan pemuda itu. Tapi dengan dua syarat. Pertama, si pemuda diminta mengoyak sebuah bantal dan mengeluarkan isinya. Kedua, pemuda itu diminta memungut seluruh isi bantal dan memasukannya kembali.

Dan sudah bisa dipastikan, pemuda itu tidak bisa memungut kembali seluruh isi bantal yang terkoyak. Kehormatan diri, harga diri, nama baik seseorang yang difitnah akan rusak dan menyebar begitu saja. Seperti yang sering kita dengar, orang akan lebih mudah melihat satu titik hitam dalam satu lembar kertas putih yang bersih. Bak bantal yang terkoyak isinya berhamburan kemana-mana. Begitulah fitnah bekerja, kita tidak akan bisa mengembalikan muru’ah orang yang sudah kita fitnah seperti sediakala.

Adab dan Tawadhu’

Baca juga:  Resensi Lupakan Aleppo

Jika pembaca setia Cak Rusdi menikmati halaman demi halaman cerita dalam buku-bukunya, tiap pembaca pasti menemukan satu pesan penting dalam tiap tulisan Cak Rusdi. Nilai itu adalah nilai adab yang di era digital ini menjadi barang langka. Setiap orang merasa berhak untuk menghakimi yang lainnya karena keunggulan pengetahuan maupun kedudukan sosial. Sopan-santun menjadi barang mahal yang semakin sulit untuk ditemui.

Seringkali kita melihat dimimbar-mimbar, masjid-masjid, media sosial mengkhotbahkan bahwasannya islam adalah agama pembawa rahmat sembari mencibir orang-orang yang beda pemahaman sebagai bahaya yang mengancam. Pada dasarnya, bukankah tuhan kita sama? Nabi kita sama? Kitab suci kita sama? Lalu kenapa kita masih saling membedakan?

Terlepas dari profesinya sebagai wartawan, Cak Rusdi begitu piawai menuliskan kisah-kisah islami yang membuat pembaca bercermin. Buku ‘Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis’ ini begitu memberi kesan kepada saya -sebagai pembaca- bahwa Cak Rusdi memiliki keilmuan yang dalam tentang agama. [Agung Widiyantoro]

Related Posts

Tinggalkan Balasan